BAPA YANG BAIK

Minggu, 4 Agustus 2019

Pdt. Simon Kostoro

Dunia ini sedang krisis dengan figur atau sosok seorang bapa, baik dalam dunia sekuler maupun dalam dunia rohani. Akibatnya, kita tidak memiliki panutan yang baik akan figur bapa. Karena tidak memiliki panutan yang baik, maka secara otomatis kita tidak bisa menjadi panutan yang baik pula. Dan hal ini dapat terus turun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun saat ini Tuhan ingin memulihkan figur kebapaan dalam keluarga kita dan dalam gereja Tuhan.

Kalau kita melihat dari firman Tuhan, salah satu “gelar” yang dimiliki oleh Yesus adalah “Bapa yang kekal” (Yes. 9:5). Ini bukan berarti bahwa Yesus adalah Allah Bapa. Yesus dalam posisi Allah Tritunggal tetaplah Allah Anak, namun Yesus menjadi representatif pribadi Allah Bapa di dunia ini. Mengapa demikian? Karena manusia tidak dapat melihat Allah Bapa. Kita hanya dapat mengenal pribadi Bapa melalui Yesus, karena Bapa dan Yesus adalah satu (Yoh. 10:30; Yoh. 14:9; Kol. 1:19).

Dalam hidup ini kita mungkin tidak memiliki figur bapa, namun kita tetap dapat mengenal figur bapa melalui Yesus. Bagaimana bapa yang baik itu?

1. Bapa yang mengasihi “istri”nya.

Dalam Ef. 5:25 dikatakan bahwa Yesus mengasihi istri-Nya, yang tidak lain adalah gereja Tuhan. Dan Yesus mengasihi gereja Tuhan dengan kasih mesra, yang dinyatakan dengan sebuah pengorbanan untuk menyelamatkan kita. Tujuan seorang suami sebenarnya hanya satu, yaitu menyelamatkan keluarganya, bukan hanya dalam hal jasmani saja, melainkan juga dalam hal rohani. Seorang suami harus bisa seperti Nuh yang menyelamatkan seluruh keluarganya masuk dalam kekekalan.

Menjadi seorang suami berarti harus siap membayar harga! Dan itu dikerjakan atas dasar kasih. Apa itu kasih? Definisi kasih dalam 1 Kor. 13:4-7 diawali dengan kata “sabar” dan diakhiri pula dengan kata “sabar”. Jadi kasih itu dapat disimpulkan dengan sabar. Suami hendaknya sabar kepada istrinya, sama seperti Kristus telah mengasihi kita. Selanjutnya, dalam Kej. 25:21 dicatat juga bahwa kasih itu mendoakan. Suami yang selalu mendoakan istrinya akan melihat kehebatan kuasa doa.

2. Bapa yang menyayangi anak-anaknya.

Tidak ada bapa yang tidak menyayangi anaknya, namun ada kalanya bapa menyakiti hati anak, entah lewat perkataan maupun perbuatan (Kol. 3:21). Karena itu kita mau melihat bagaimana sikap Allah Bapa kepada Yesus, Anak-Nya, dalam Mat. 3:17. Ketika Yesus dibaptis terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari perkataan Allah Bapa ini, yaitu:

a. “Inilah Anak-Ku”

Ini berbicara tentang acceptance (penerimaan). Seorang bapa pasti memiliki harapan-harapan yang tinggi atas anaknya, sehingga ada banyak bapa yang menjadi kecewa kepada anaknya kalau harapannya itu tidak terwujud. Namun seorang bapa harus dapat menerima keadaan anak apa adanya, baik segala kelebihan maupun segala kekurangannya, sama seperti Bapa yang menerima kita apa adanya (Rm. 15:7).

b. “Yang Kukasihi”

Ini berbicara tentang affection (kasih sayang). Seorang bapa harus menunjukkan kasih sayangnya kepada anaknya. Kasih di sini bukan sekedar perasaan di hati, namun bentuk kasih yang dinyatakan dengan cara yang bisa dirasakan oleh anak. Ada lima bahasa kasih yang dapat dinyatakan kepada anak, yaitu perkataan, sentuhan, meluangkan waktu, hadiah atau pemberian, dan melayani.

c. “Kepada-Nyalah Aku berkenan”

Ini berbicara tentang affirmation (penegasan atau penguatan). Seorang bapa harus membangun mental dan semangat anaknya dengan cara memuji atau membanggakan anak. Gunakan kata-kata yang positif, bukan kata-kata yang justru menjatuhkan mental anak. 

Di akhir zaman ini Tuhan akan memulihkan gereja, yang dimulai dari “keluarga”. Tidak kebetulan kitab terakhir di Perjanjian Lama mencatat mengenai hal ini (Mal. 4:5-6). Kata terakhir di Perjanjian Lama sebelum Tuhan berhenti berbicara selama 400 tahun adalah “kutuk”. Itulah yang terngiang dalam diri manusia, sampai akhirnya Yesus datang dan menanggung kutuk itu di atas kayu salib. Dan dari salib itu mengalirlah pemulihan, termasuk pemulihan dalam keluarga kita! Sambut pemulihan itu di dalam nama Tuhan Yesus Kristus! (XY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *