BEBERAPA KEBENARAN TENTANG MEZBAH (SOME TRUTHS ABOUT ALTAR)

Pdt. Simon Kostoro

Minggu, 21 Juli 2019

MEZBAH NUH

Kata “mezbah” pertama kali muncul dalam Kej. 8:20-21, yang dalam bahasa Ibrani dipakai kata “mizbeach” dan dalam bahasa Inggris dipakai kata “altar”. Kata ini berasal dari kata “zabach” yang artinya adalah menyembelih binatang. Jadi mezbah itu identik dengan korban. Dalam Perjanjian Lama korban selalu dipakai sebagai tanda pengesahan sebuah perjanjian. Mezbah berkaitan dengan hubungan yang terjadi antara kedua belah pihak.

Adapun latar belakang dari ayat ini adalah Tuhan memberikan hukuman kepada manusia dalam bentuk air bah karena begitu geram melihat kejahatan manusia (pasal 7-8). Tapi Nuh dan keluarganya masuk ke dalam bahtera dan selamat karena hidup benar di hadapan Tuhan. Setelah keluar dari bahtera Nuh berinisiatif untuk membangun mezbah dan mempersembahkan korban kepada Tuhan. Dan ketika Allah mencium korban itu, hati-Nya menjadi lunak. 

Kita dapat melihat bahwa mezbah memiliki peranan yang sangat besar. Mezbah dapat menyentuh dan mengubah hati Allah, dari hati yang murka menjadi hati yang berkemurahan dan berbelas kasihan kepada manusia. Setelah Nuh mempersembahkan korban, maka Allah memberkati Nuh dan keluarganya. Bukan itu saja, Allah juga mengikat perjanjian dengan Nuh dengan tanda busur pelangi bahwa tidak akan ada lagi air bah yang akan membinasakan seluruh umat manusia.

MEZBAH ABRAHAM

Dalam Kej. 12:8 dicatat mengenai pertama kalinya Abraham membangun mezbah bagi Tuhan. Abraham memang terkenal dengan mezbah-mezbahnya. Kemana pun ia pergi, ia selalu ingat untuk membangun mezbah bagi Tuhan. Dan di situ jugalah Abraham pertama kali memanggil nama Tuhan. Dalam terjemahan BIS kalimat “memanggil nama Tuhan” ini diterjemahkan dengan “menyembah Tuhan”. Abraham menyembah Allah yang telah memanggil dia keluar dari Ur Kasdim menuju tanah perjanjian.

Jadi mezbah erat kaitannya dengan penyembahan. Apa itu penyembahan? Esensi dari penyembahan adalah perjumpaan antara Roh Allah dengan roh manusia. Karena itu penyembahan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kita dapat menyembah Tuhan di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting adalah hati kita yang senantiasa rindu dan mengasihi Tuhan. Dan Tuhan tahu hati kita! Kita tidak dapat membohongi Tuhan saat kita datang untuk menyembah Tuhan.

Karena itu Abraham pernah diminta oleh Tuhan untuk membangun mezbah yang terpenting dalam hidupnya, yaitu ketika ia diminta untuk mengorbankan Ishak, anaknya yang tunggal (Kej. 22). Abraham memegang firman Tuhan bahwa Ishak adalah anak perjanjian. Ia percaya bahwa Tuhan sanggup menghidupkan Ishak lagi. Karena itu Abraham tidak ragu untuk mempersembahkan Ishak. Itulah sebabnya Abraham disebut sebagai bapa orang beriman.

Dan 2000 tahun kemudian apa yang dilakukan oleh Abraham ini dilakukan oleh Allah sendiri, dengan benar-benar mengorbankan Yesus, Anak-Nya yang tunggal. Salib Kristus adalah mezbah terbesar sepanjang masa. Allah pernah mengikat perjanjian dengan Abraham dalam Kej. 15:9, 18 bahwa Ia akan memberkati keturunan Abraham. Oleh karena Kristus maka kita pun terhisap ke dalam perjanjian itu dan berhak menerima berkat-berkat Abraham. Karena itu kalau kita setia menyembah Tuhan, Tuhan pasti akan memberkati kita.

Saat ini kita melihat beberapa peraturan tentang mezbah yang terdapat dalam Kel. 20:24-26:

1. Mezbah tidak boleh didirikan dari batu pahat (ayat 25)

Batu yang dipakai untuk membangun mezbah tidak boleh dibentuk-bentuk, cukup memakai batu yang asli dan ditumpuk menjadi mezbah. Maknanya adalah ketika datang untuk menyembah Tuhan, datanglah dengan membawa hati yang apa adanya. Hati yang penuh dengan kepolosan dan ketulusan itulah yang berkenan kepada Allah. Penyembahan tidak perlu dimanipulasi. Datang saja seperti seorang anak yang menghampiri bapanya.

2. Jangan naik tangga ke atas mezbah, supaya aurat tidak kelihatan (ayat 26)

Yang dimaksud adalah tidak boleh kelihatan “daging” ketika kita menyembah Tuhan. Daging tidak boleh muncul dalam bentuk apapun! Kita harus menyembah Tuhan di dalam roh. Kedua prinsip inilah yang dimaksud oleh Yesus dalam Yoh. 4:23-24. Dalam beberapa terjemahan kalimat “menyembah dalam roh dan kebenaran” diterjemahkan dengan “menyembah dalam roh dan ketulusan”. 

Penyembahan identik dengan korban. Sekarang kita akan melihat korban apa saja yang disukai oleh Tuhan.

1. Jiwa yang hancur atau contrite spirit (Mzm. 51:18-19)

Korban yang disukai Tuhan bukanlah korban binatang, melainkan hati yang hancur. Tuhan berkenan kepada orang-orang yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhan, yaitu sikap hati yang berkata bahwa tidak ada yang dapat menolong selain Tuhan. Di sinilah pentingnya Roh Kudus. Roh Kudus akan membentuk kita menjadi lemah lembut dan rendah hati.

2. Korban syukur (Ibr. 13:15; Mzm. 50:23)

Korban syukur berkaitan erat dengan ucapan bibir atau lidah kita. Apakah kita tetap dapat mengucap syukur ketika dalam kondisi yang berat? Biasakan untuk mengucap syukur dan bermazmur di dalam penyembahan.

3. Hidup yang berkenan (Rm. 12:1)

Dalam terjemahan MSG ayat ini berbunyi: “Take your everyday, ordinary life –your sleeping, eating, going-to-work, and walking-around life– and place it before God as an offering.” Maksudnya adalah aktivitas kita sehari-hari harus menjadi persembahan yang hidup kepada Tuhan, dengan cara hidup berkenan di hadapan Tuhan. Kita memang belum sempurna, tapi kita harus punya kerinduan untuk terus berubah menjadi seperti Kristus.

Hidup di dalam penyembahan akan membawa kita tetap berada pada tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi kita. Karena itu persembahkanlah hati, lidah dan hidup kita sebagai persembahan yang hidup saat ini juga! Penyembahan pasti mendatangkan berkat. Apakah Anda saat ini dihimpit oleh masalah? Mulailah menyembah Tuhan! Tuhan Yesus memberkati. (XY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *