Dengan Segenap Hati

Ibadah Sabtu Sore, 1 Desember 2018

Pdt. Simon Kostoro


Ia (Raja Amazia) melakukan apa yang benar di mata Tuhan, hanya tidak dengan segenap hati. 2 Tawarikh 25:2

 

Di akhir zaman ini ada banyak anak Tuhan yang seperti Raja Amazia, melakukan kebenaran tetapi tidak dengan segenap hati, padahal yang Tuhan minta dari umatnya ialah “segenap hati” seperti yang terlihat dari ayat pokok bangsa Israel di dalam Ulangan 6:4-5 (dikutip oleh Yesus dalam Mrk. 12:29-30), yang dikenal dengan “Shema Israel” (Dengarlah Israel). Ayat ini berbunyi “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Untuk mengerti apa arti “segenap hati”, mari terlebih dulu kita melihat apa yang “bukan” segenap hati. Bukan segenap hati artinya : setengah atau separuh hati ; hati yang terbagi (tidak penuh) ; hati yang bercabang atau mendua hati ; hati yang tidak fokus ; hati yang tidak sungguh-sungguh. Dalam bahasa Ibrani kata “segenap” dipakai kata “salem”. Dari kata ‘salem” muncul kata “shalom” yang artinya damai, aman, happy, makmur, sehat, well-being. Terdapat juga kata “Yerusalem” yang artinya “foundation of peace”.

Kata “salem” ini dipakai dalam Alkitab untuk menyatakan beberapa hal, mari kita lihat bersama.

  1. Tuntas, tidak setengah-setengah

Ini adalah kata yang dipakai dalam 2 Taw. 8:16 ketika Salomo menyelesaikan pembangunan Bait Allah; “Maka terlaksanalah segala pekerjaan Salomo, dari hari dasar rumah Tuhan diletakkan sampai kepada hari rumah itu selesai. Dengan demikian selesailah (salem) sudah rumah Tuhan.” Tuhan tidak mau kita setengah-setengah dalam melayani Tuhan. Selesaikan pekerjaan Tuhan sampai tuntas !

 

  1. Utuh, tidak kurang, tepat

Ini adalah pengertian yang terdapat dalam Ul. 25:15, “Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh (salem) dan tepat…” Kata yang sama juga terdapat dalam Ams. 11:1, “Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat (salem).”  Tuhan telah mengasihi kita dengan segenap hati, sehingga Anak-Nya yang tunggal diserahkan bagi kita. Tapi bagaimana dengan kita? Apakah kita juga mengasihi Dia dengan seutuhnya? Seringkali kita “berlaku curang” kepada Tuhan. Kita tidak memberi apa yang seharusnya Ia dapatkan dari kita yaitu “segenap” hati kita!

 

  1. Sudah siap (well prepared)

Kata ini terdapat dalam 1 Raj. 6:7, “Pada waktu rumah itu didirikan, dipakailah batu-batu yang telah disiapkan (selem) di penggalian, sehingga tidak kedengaran palu atau kapak atau sesuatu perkakas besipun selama pembangunan rumah itu.” Ketika datang beribadah, apakah kita datang dengan hati yang siap ataukah dengan hati sekedarnya? Banyak yang beribadah tanpa kesiapan hati sehingga tidak dapat memuji Tuhan, bahkan tidak dapat menerima firman. Hati yang tidak siap sama seperti tanah yang di pinggir jalan, sehingga benih firman yang ditaburkan tidak ada gunanya karena tidak pernah masuk dalam hati kita. Datanglah beribadah bukan saja dengan kesiapan jasmani, namun yang terutama adalah dengan kesiapan hati.

 

Akhir kata ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan, yaitu :

  1. Hati-hati, “hati” bisa berubah!

Mari kita menjadikan kehidupan Salomo sebagai sebuah peringatan. Pada masa tuanya ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan karena istri-istrinya mencondongkan hatinya pada allah-allah lain (1 Raj. 11:4). Kita harus waspada sebab hati manusia itu licik dan mudah berubah (Yer. 17:9). Padahal Salomo waktu muda adalah pribadi yang luar biasa sehingga Allah pernah menampakkan diri dua kali kepadanya. Mengapa ia berubah? Karena kerohaniannya tidak pernah dibaharui. Tubuh jasmani kita memang akan mengalami penuaan (degenerasi), tapi di dalam Yesus kita harus mengenakan manusia baru yang senantiasa dibaharui. Dengan demikian hati kita tidak akan berubah, justru kasih kita kepada Tuhan akan makin bertumbuh.

 

  1. Tidak segenap hati membawa kepada dosa.

Jangan berpikir bahwa beribadah tidak dengan segenap hati tidak memiliki dampak yang besar. Kita akan melihat bagaimana akhir kehidupan Amazia yang tadinya melakukan apa yang benar namun tidak dengan segenap hati. Dalam 2 Taw. 25:14-15 dikatakan bahwa setelah mengalahkan orang Edom, ia malah membawa pulang para allah bani Seir dan menyembah allah-allah itu. Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Amazia! Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama seperti Amazia, dengan menukar Allah kita Yang Mahakuasa dengan hal-hal lain. Ingat, tidak segenap hati akan membawa kita pada dosa, dan dosa akan membawa kita pada murka Tuhan!

 

  1. Segenap hati membawa kepada keberhasilan.

Dalam 2 Taw. 31:21 dicatat tentang hidup Hizkia: “Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.” Ketika kita percaya dengan segenap hati atau “full” kepada Tuhan, maka Tuhan juga akan “full” menyatakan pertolongan-Nya kepada kita!

 

Yesus pernah bertanya sebanyak tiga kali kepada Petrus; “Do you love me?” Mengapa Yesus sampai bertanya tiga kali? Jawaban Petrus yang pertama adalah jawaban yang timbul secara impulsif (asal jawab). Lalu saat Tuhan bertanya kjedua kalinya, Petrus mulai menjawab dengan berpikir (jawaban dari jiwanya). Dan yang terakhir, ketika Yesus bertanya ketiga kalinya, pertanyaan itu begitu mengena dalam hatinya dan ia memberikan jawaban yang jujur dalam segala keterbatasan dan kelemahannya.

Tuhan sudah mengasihi kita dengan segenap hati. Bapa menyerahkan Yesus dan sengaja meremukkan-Nya di atas kayu salib demi kita semua. Karena itu tidak berlebihan kalau Tuhan juga menuntut kita untuk segenap hati kepada-Nya. Bahkan itu adalah ibadah yang sudah sepatutnya kita persembahkan kepada Tuhan. Tidak mengapa kalau saat ini kita masih terbatas dalam mengasihi Tuhan, namun kita mau terus maju dan meminta Roh Kudus untuk terus membaharui kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *