Hamba Yang Setia

Ibadah Minggu Sore, 18 November 2018

Pdt. Hardi R. Halim – Makasar


Bacaan: Matius 24:45-47

 

Di dalam setiap perintah firman Tuhan selalu terkandung jaminan berkat Tuhan. Dan ketika kita mau taat pada kebenaran dan pimpinan Roh Kudus, maka Tuhan pasti memunculkan mata air yang menjadi sumber kehidupan, serta akan mengganti yang hilang dua kali lipat. Sama seperti dalam perikop yang telah kita baca di atas, ketika kita menjadi hamba yang setia, maka kita akan diangkat atau dipromosikan oleh Tuhan menjadi kepala dan bukan ekor.

Sadar atau tidak, sebagai orang percaya kita sedang digiring oleh Tuhan untuk menikmati berkat ini. Namun sekali lagi, berkat ini hanya akan dinikmati oleh mereka yang setia. Dan setia yang dimaksud di sini adalah mereka yang didapati Tuhan sedang melakukan tugasnya ketika Tuhan datang (ayat 46). Mat. 24 memang berbicara secara khusus tentang akhir zaman. Kita adalah orang-orang yang hidup di akhir zaman, dan seperti yang dikatakan di ayat ini, kita dituntut untuk setia melakukan tugas kita.

Tugas apa yang dimaksud oleh Tuhan? Sebelumnya kita harus melihat terlebih dahulu ayat-ayat yang ada di atasnya. Ayat 37-44 memberi peringatan kepada kita untuk berjaga-jaga menjelang kedatangan Tuhan yang kedua. Dan dalam ayat 37-39 secara jelas Tuhan menggambarkan bahwa keadaan di akhir zaman ini sama seperti zaman Nuh, yaitu makan dan minum, kawin dan mengawinkan sebelum air bah itu datang (=kedatangan Tuhan yang kedua).

Sama seperti waktu air bah datang ada yang diselamatkan (keluarga Nuh) dan ada yang ditumpas (manusia lainnya), begitu jugalah saat kedatangan Tuhan nanti (ayat 40). Untuk masuk dalam kelompok yang diselamatkan kita harus hidup seperti Nuh. Apa yang dilakukan Nuh? Selain hidup benar, Nuh juga taat pada perintah Tuhan, meskipun perintah itu tidak masuk akal. Nuh diperintah oleh Tuhan untuk membuat bahtera di atas gunung. Perintah ini tidak sesuai dengan situasi dan kondisi, sebab pada umumnya orang membuat perahu di tepi pantai atau sungai supaya mudah memindahkannya.

Ketika Nuh taat melakukannya tentu banyak orang yang meragukan dan mengejeknya. Ketaatan kepada firman Tuhan memang seringkali mengundang ejekan! Tapi Nuh tetap taat sebab ia tahu bahwa Tuhan sedang mengerjakan rencana yang besar dalam hidupnya. Sementara membangun bahtera, Nuh juga berusaha untuk menyelamatkan orang lain. Namun yang menjadi percaya hanyalah istrinya, tiga orang anaknya dan tiga orang menantunya, sementara yang lain tetap berkeras hati menolak berita yang disampaikannya.

Kita melihat gambaran yang jelas sekarang mengenai apa yang diomaksud dengan tugas dalam ayat 46. Musa bukan hanya sibuk membangun bahtera, namun ia juga berusaha membawa orang lain, terutama keluarganya pada jalan keselamatan. Membangun bahtera berbicara tentang membangun pelayanan. Jadi jangan sampai kita hanya membangun pelayanan sebaik-baiknya di gereja atau masyarakat, tapi tidak peduli dengan keselamatan orang lain dan keluarga kita. Membangun keluarga yang berkenan kepada Tuhan merupakan tugas utama kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan!

Semua orang yang ada di dalam keluarga harus menjadi pribadi-pribadi yang berkenan kepada Allah. Sesuai perintah firman Tuhan, suami harus menjadi kepala rumah tangga, dan istri harus menjadi pendukung utama dari suami. Orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak, dan anak-anak harus taat kepada orang tua. Anak-anak yang taat di dalam rumah pasti akan diangkat oleh Tuhan, seperti Daud yang diangkat menjadi raja dan Yusuf yang diangkat menjadi perdana menteri.

Menjadi pelayan Tuhan yang berkenan kepada Tuhan berarti kita harus memiliki kesungguhan hati kepada Tuhan, tidak setengah-setengah atau suam-suam kuku seperti jemaat Laodikia (Why. 3:14-16). Pelayanan kita harus dapat dinikmati oleh Tuhan, bukannya malah ditolak atau dimuntahkan oleh Tuhan. Karena itu dalam ayat 18 Tuhan berkata bahwa supaya kita dapat menjadi hamba yang berkenan kita harus membeli tiga hal ini, yaitu:

  1. Emas

Emas merupakan lambang dari kemurnian iman kita (1 Ptr. 1:7). Apakah saat ini kita masih percaya sepenuhnya kepada Tuhan? Dalam masa kekurangan apakah kita masih percaya pada pemeliharaan Tuhan? Di akhir zaman ini iman kita pasti akan diuji untuk membuktikan kemurniannya. Miliki iman yang teguh dan bekerjalah dengan iman yang murni!

 

  1. Pakaian putih

Yang dimaksud dengan pakaian putih adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus (Why. 19:8). Perlu diperhatikan bahwa yang disebutkan di sini adalah perbuatan benar, dan bukan perbuatan baik. Perbuatan yang baik belum tentu benar, tapi perbuatan yang benar pasti baik, meskipun tidak mengenakkan. Hidup dalam kebenaran sangatlah penting, sebab Iblis memakai jiwa kita yang secara naluri menghindari sakit dan mencari kenikmatan untuk melemahkan prinsip ini.

 

  1. Minyak untuk melumas mata

Minyak merupakan lambang dari Roh Kudus. Keberadaan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya sangatlah penting. Mengapa? Sebab tanpa Roh Kudus kita tidak akan dapat melihat masa depan indah yang disediakan Tuhan bagi kita (Efe. 1:15-18). Kita harus tahu bahwa Daniel tidak dimakan oleh singa bukan karena ia adalah orang yang luar biasa, namun karena ia memiliki roh yang luar biasa. Roh yang luar biasa itu didapatnya dari persekutuan yang erat dengan Tuhan setiap harinya. Miliki persekutuan yang erat dengan Tuhan lewat doa, maka kita akan memiliki roh yang kuat untuk memandang pengharapan di dalam Tuhan.

 

Tuhan ingin kita menjadi hamba-hamba yang setia sampai kedatangan-Nya kelak. Karena itu lakukanlah tugas pelayanan dengan baik sambil membangun keluarga yang berkenan kepada Tuhan. Tetaplah miliki kemurnian iman, hidup dalam kebenaran dan bersandar pada Roh Kudus, Tuhan pasti akan membawa kita pada keselamatan yang sempurna. Tuhan Yesus memberkati. (XY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *