Hidup Yang Menyenangkan Hati Tuhan

Pdt. Yos Hartono

Minggu, 11 Agustus 2019

Dalam menjalani kehidupan jangan semata-mata memikirkan bagaimana agar Tuhan memberkati kita atau memberikan mujizat-Nya kepada kita. Tetapi terlebih daripada itu kita harus mau hidup menyenangkan hati Tuhan. Bila kita sebagai anak-anak Tuhan bisa menata atau mengelola hidup sedemikian rupa sehingga hidup kita berkenan bagi Tuhan, maka hal-hal lainnya (berkat, mujizat, dan lain-lain) pasti otomatis diatur oleh Tuhan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik tepat pada waktunya.

Pengenalan diri sendiri itu penting agar kita bisa menata hidup kita dengan baik. Begitu juga bila kita mau mengenal Tuhan lebih dekat,  kita juga harus lebih mengenal diri kita. Siapa kita? Dengan mengenali diri kita, kita dapat memposisiskan yang terbaik bagaimana seharusnya kita di hadapan Tuhan. Dalam Kej. 2:7 dituliskan bahwa kita adalah makhluk hasil bentukan Tuhan.

Ketika Allah menciptakan isi bumi ini dengan hanya berfirman maka yang tidak ada menjadi ada. Tetapi ketika menghadirkan manusia, Allah tidak hanya cukup dengan berfirman tetapi Ia membentuk manusia itu dari debu tanah. Jadi Tuhan bekerja membentuk dan mengukir manusia. Supaya manusia yang dari debu tanah menjadi makhluk yang hidup, maka Allah harus menghembuskan nafas. Dengan demikian manusia terdiri dari dua hal yaitu unsur duniawi (debu tanah) dan unsur ilahi (nafas Allah).

Dari situ kita dapat mensyukuri bahwa kita ini adalah hasil karya Allah. Sehebat-hebatnya manusia, namun di hadapan Allah ia hanyalah hasil dari bentukan Allah. Ini mendorong kita untuk selalu merendahkan diri di hadapan Allah, apapun kehebatan kita, karena kita adalah hanyalah hasil dari bentukan Allah. Kerendahan hati akan mendorong kita untuk mengucap syukur. Rasul Petrus mengatakan bahwa hidup manusia ini seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.  Dalam Ayb. 14:1-2 dituliskan “manusia… singkat umurnya dan penuh kegelisahan.”

Marilah kita mau rendah hati dihadapan Tuhan dan hanya orang rendah hati yang bisa mengucap syukur kepada Tuhan. Kita juga harus belajar menghargai diri kita, bila kita menghargai diri kita maka kita tidak akan menyia-nyiakan kehidupan kita. Kita pakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan. Bila hidup kita menyenangkan hati Tuhan dan berkenan bagi Tuhan maka segala masalah kita akan menjadi tanggung jawab Tuhan. Bila Tuhan disenangkan dengan sikap hidup kita, maka tidak ada perkara yang tidak dapat Tuhan lakukan dalam kehidupan kita.

Manusia terdiri dari dua hal yaitu duniawi dan ilahi, maka kebutuhan hidup kita harus mencakup kedua hal itu. Tidak bisa salah satu diperhatikan lebih karena akan menimbulkan ketimpangan. Ketika Yesus berpuasa empat puluh hari akhirnya laparlah Yesus (Mat. 4:1-4). Dalam kata lapar dapat diartikan ada kekosongan jasmani yang mengakibatkan fisik menjadi lemah, maka datanglah Iblis untuk mencobai Yesus. 

Bagaimana cara Yesus memenuhi kebutuhan jasmaninya? Jawaban Yesus ketika dicobai Iblis adalah “… Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Di sini Tuhan menjelaskan selain kita berlimpah dengan apa yang kelihatan tetapi kita juga harus berlimpah dalam firman. Caranya adalah dengan  mendekatkan diri kepada Tuhan dalam doa, perenungan firman Tuhan dan pelayanan.

Dalam Mat. 12:43-45 diceritakan perumpamaan mengenai sebuah rumah yang kosong. Ini melambangkan hati manusia yang sudah dilepaskan dari satu roh jahat, tetapi dibiarkan kosong. Maka masuklah tujuh roh jahat lainnya ke dalam hati orang itu sehingga keadaannya menjadi lebih buruk dari keadaanya semula. Itu bahayanya jika hati kita dibiarkan kosong. Hati kita akan menjadi tempat pesta poranya roh jahat. Karena itu marilah kita memperhatikan kebutuhan duniawi dan kebutuhan rohani dengan seimbang. Tuhan Yesus memberkati. (NC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *