Kebenaran

Pdt. Sam Brodland          

Minggu, 25 Agustus 2019

Kata kebenaran berasal dari kata “benar”, yaitu kita benar di hadapan Allah atau kita menerima kebenaran Kristus. Kata kebenaran muncul pertama kali dalam kitab Kejadian. Kita tahu kitab Kejadian adalah benih dari segala kebenaran yang ada. Ketika kita belajar kitab Kejadian, kita mempelajari benih-benih yang nantinya akan bertumbuh di sepanjang Alkitab. Jadi ketika kita belajar kitab Kejadian, kita belajar esensi dari apa yang Tuhan katakan.

Kej. 6:9 mencatat: “Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”  Inilah kata “benar” pertama yang akan kita selidiki. Sebelum riwayat Nuh kita tahu ada riwayat Adam dan Hawa di mana dosa mulai masuk dalam dunia. Setelah lewat beberapa generasi, kita menemukan ada Nuh yang benar di hadapan Allah. Inilah kata “benar” pertama kali yang dikatakan kepada seseorang. Dua hal yang dikatakan ayat ini tentang Nuh adalah dia seorang yang benar dan dia hidup bergaul dengan Allah.

Ini adalah gambaran bagaimana seharusnya kehidupan Kristen yang normal itu. Ketika kita datang kepada Tuhan kita dibenarkan, maka secara alamiah langkah berikutnya adalah kita harus hidup bergaul dengan Allah. Ada sebuah pandangan dalam kekristenan di Amerika yaitu ketika kita sudah dibenarkan, maka kita bisa hidup sesuka hati kita. Tapi kita mau kembali kepada Alkitab bagaimana sesungguhnya kekristenan yang normal itu. Setelah dibenarkan kita harus hidup berjalan atau bergaul dengan Allah. Sebab itu kita mau mengikuti kebenaran firman ini.

Mungkin sulit rasanya bergaul dengan Allah, tapi Tuhan mau kita melakukan itu supaya kita mendapatkan berkat. Kita lihat hasil yang begitu luar biasa dari kehidupan Nuh. Kej. 7:1 mencatat mengenai hasil dari kebenaran Nuh di hadapan Allah: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu…” Mungkin saat ini kita kuatir mengenai keluarga kita yang belum mengenal Tuhan atau tidak melayani Tuhan, mungkin juga kuatir tentang diri kita sendiri. Mari kita belajar dari Nuh. Nuh berjalan dengan Allah, maka seluruh keluarganya diselamatkan. Tetaplah berjalan dengan Allah maka Tuhan akan menyelamatkan keluarga kita.

Orang lain yang hidup benar dalam Kejadian adalah Abraham. Kej. 15:6 mencatat: “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”. Apa  yang dilakukan Abraham adalah percaya kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran. Kita lihat bahwa Abraham memiliki pengalaman hidup yang panjang dan dalam setiap periodenya Tuhan selalu melakukan sesuatu dalam hidupnya. Abraham selalu setia kepada Tuhan. Ia mengikuti jejak Nuh. Ia tidak mengandalkan diri sendiri tapi ia percaya kepada Tuhan dan ia berjalan dengan Tuhan. Hidupnya merefleksikan imannya.

Bahkan kita bisa melihat bahwa Abraham memerintahkan anak-anak dan keturunannya untuk mengikuti jejaknya. Memerintahkan di sini artinya adalah mengatur semuanya menjadi baik. Abraham memuridkan keluarganya. Itu selaras dengan amanat Kristus dalam Mat. 28:18-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” Tuhan tidak mengatakan cukup hanya memberitakan Injil saja supaya mereka percaya, tapi pergi dan memuridkan mereka. Ada teladan yang harus diikuti sebagai seorang murid di sini.

Abraham memelihara jalan Tuhan. Kata memelihara artinya adalah melindungi. Itu gambaran bagaimana kita harus menjaga dan melindungi langkah kita. Kita harus menolak pengaruh yang datangnya dari dunia, seolah-olah jalan itu dipagari oleh pagar duri sehingga tidak ada yang bisa mendekat pada jalan itu. Demikianlah kita harus menjaga jalan kita bersama dengan Tuhan. Bukannya Tuhan mau membatasi atau keras kepada kita. Tapi semua itu untuk keuntungan kita sendiri. Dalam kasus Nuh, kita lihat keuntungannya adalah keluarganya diselamatkan. Dalam Abraham, keuntungannya adalah Tuhan memenuhi janji-Nya kepada Abraham (ayat 18). Saudara menerima banyak janji Tuhan. Ikuti jejak Abraham, tetaplah berjalan dalam kebenaran, maka saudara akan menerima janji-janji itu.

Dalam Rom. 6:13 Paulus membahas adanya pergumulan antara kita menjadi orang Kristen dan berjalan di dalamnya. Paulus di sini menjelaskan biarlah kita memilih cara hidup yang benar sebagai anak Tuhan. Bagaimanakah kita harus hidup setelah menjadi anak Tuhan? Yaitu dengan menyerahkan diri kita kepada Tuhan, termasuk menyerahkan anggota-anggota tubuh kita (bagian-bagian tubuh, termasuk tangan, kaki, mata, lidah, dan lainnya).

Ini adalah bahasa yang sama yang dipakai oleh Yesus dalam Mat. 5:29-30 mengenai bagaimana kita harus memperlakukan anggota tubuh kita. Bahasa yang digunakan Paulus sama dengan bahasa yang digunakan oleh Yesus. Artinya, apapun yang kita lakukan dengan seluruh anggota tubuh kita, kita harus memakainya untuk kemauan Tuhan, yaitu melakukan kebenaran. Terkadang kita perlu bertanya kepada diri sendiri apa tangan kita sudah memuliakan Tuhan? Apa yang mata kita lihat? Bagaimana ketika kita melihat TV dan handphone? Apa yang telinga kita dengar? Apakah kaki kita sudah mengikuti jalannya Tuhan? Apakah kita sudah mengikuti teladan dari Nuh dan Abraham? Ketika kita sudah lahir baru, sudah sewajarnya kita berjalan dalam kebenaran.

Mungkin Saudara merasa frustasi mengenai anggota keluarga Saudara atau ada janji Tuhan yang belum Saudara alami. Lihatlah kepada Nuh dan Abraham yang mendapat penggenapan janji Tuhan ketika mereka menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Ada dua pilihan bagi Saudara saat ini, yaitu menyerahkan diri kita kepada ketidakbenaran, yang berujung pada frustasi, atau menyerahkan diri kita kepada kebenaran, dan melihat segala sesuatu mulai menjadi baik dan indah. Saya mau mendorong Saudara, jika Saudara merasa frustasi, coba koreksi diri Saudara. Kepada apakah Saudara menyerahkan diri?

Kita mau meneladani Nuh, bagaimana ia dibenarkan di hadapan Allah dan ia berjalan bersama Allah, dan akhirnya seisi keluarganya diselamatkan. Kita juga mau meneladani Abraham, bagaimana ia percaya kepada Tuhan, kemudian memuridkan keluarganya, sehingga janji Tuhan digenapi dalam kehidupannya. Adalah sebuah kesempatan jika kita setiap Minggu menerima firman Tuhan, sebab ada hal-hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan kepada kita. Hari ini Tuhan memperingatkan kita untuk menyerahkan diri kepada kebenaran. Dan jika kita melakukannya, maka kita akan melihat berkat-berkat Tuhan dinyatakan dalam hidup kita. Tuhan memberkati! (KS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *