MENANGKAL HOAX

Pdt. Simon Kostoro

Sabtu, 19 Oktober 2019

Hoax, salah satu kata yang paling populer akhir-akhir ini. Apa sebenarnya arti dari hoax? Hoax memiliki beberapa pengertian, di antaranya kebohongan (lies), tipuan/tipu muslihat, trick, fitnah, juga gosip. Apapun pengertiannya, tapi tujuannya hanya satu, yaitu untuk menjatuhkan lawan atau untuk membunuh karakter seseorang. 

Dan kalau kita telusuri hoax ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Hoax pertama kali muncul di Taman Eden. Dari Kej. 3:1-5 ada tiga hoax yang digunakan Iblis untuk menjatuhkan manusia pertama, yaitu:

1. ayat 1. “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

Dengan perkataan ini Iblis hendak membangun kesan bahwa Allah itu jahat, Ia mau menghukum manusia dan membuat manusia menderita. Iblis hendak menyesatkan manusia dengan menanamkan konsep yang salah (misconception) tentang Allah.

2. ayat 4. “Sekali-kali kamu tidak akan mati,”

Iblis mulai menebarkan dusta. Perkataan ini sebenarnya bertujuan untuk memutarbalikkan fakta, sehingga manusia (Hawa) menjadi bingung mana yang benar.

3. ayat 5. “tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Inilah yang disebut dengan “half truth” atau kebenaran yang hanya separuh. Memang benar bahwa pada waktu makan buah itu manusia akan mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Tapi mengenai “menjadi seperti Allah”, itu sama sekali tidak benar. 

Akibat hoax itu sangat fatal . Manusia menjadi bingung, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan salah satu akibat dari hoax ialah fenomena post truth, di mana seseorang tidak lagi percaya pada fakta yang obyektif (kebenaran), melainkan percaya pada pendapat dirinya sendiri. Apa yang ia anggap benar, itulah yang dipercaya, tanpa mau peduli fakta yang benar. Inilah cara yang gencar dipakai oleh Iblis di akhir zaman untuk mengacaukan pekerjaan Tuhan dan menghancurkan gereja-Nya.

Sdebab itu kita harus tahu bagaimana cara untuk menangkal hoax. Ada empat cara :

1. Pakai Akal Sehat!

Dalam 1 Pet. 1:13 dikatakan: “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah…” Tuhan memberikan kepada kita akal budi untuk menimbang segala sesuatu, apakah sesuatu itu logis (masuk akal) atau tidak. Contohnya dalam Yoh. 9:30-33 ada kisah mengenai orang buta yang baru saja disembuhkan oleh Yesus tapi mendapat hoax dari orang-orang Farisi bahwa Yesus itu orang yang tidak benar, orang berdosa dsb. Orang buta ini menjawab dengan memakai logikanya dan berkata bahwa tidak mungkin Allah memakai Yesus kalau Ia bukan orang benar. Perkataannya ini membungkamkan hoax dari orang-orang Farisi tersebut.

2. Klarifikasi atau Konfirmasi

Ams. 18:17 berbunyi: “Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya.” Jangan mudah percaya kalau belum mengklarifikasi sesuatu hal, supaya kita tidak termakan hoax. Kita dapat melihat contohnya dalam Yosua 22. Di situ diceritakan tentang apa yang terjadi setelah pembagian tanah Kanaan. Sebagian besar suku Israel mendapat milik pusaka di sebelah Barat Sungai Yordan, tapi 2½ suku Israel (Ruben, Gad, ½ Manasye) memilih untuk tinggal di sebelah Timur Sungai Yordan.

Lalu terdengarlah oleh mereka yang tinggal di sebelah barat cakap orang (ayat 11) bahwa 2½ suku itu mendirikan mezbah untuk menyembah allah asing dan hal ini membuat ke 9 ½ suku yang di sebelah barat S. Yordan sangat marah dan bermaksud untuk menyerang 2½ suku tersebut. Tapi untungnya sebelum itu mereka mengirim utusan untuk mengklarifikasi apa tujuan mereka membuat mezbah. Setelah diklarifikasi ternyata tujuannya bukan untuk menyembah allah asing, melainkan hanya untuk menjadi tugu peringatan bagi anak cucu mereka akan Allah Yehova. Maka berakhirlah semuanya dengan damai. Bayangkan apabila mereka tidak mengklarifikasi, pasti sudah terjadi banjir darah !

3. Saksi

Dalam 2 Kor. 13:1 dan 1 Tim. 5:19 dan juga dalam kitab Torat dijelaskan bahwa satu perkara baru bisa ditetapkan apabila dikuatkan minimal 2 saksi, atau lebih. Tentu saja dengan catatan bahwa saksi itu bukan saksi palsu, melainkan saksi yang jujur, obyektif dan tidak memiliki kepentingan. Untuk itu kita harus juga mencari saksi untuk meneguhkan suatu perkara, dengan demikian kita tidak mudahtermakan hoax. Yesuspun selalu di dampingi oleh dua saksi dalam setiap momen yang penting dalam hidupNya.

4. Cintai Kebenaran

Ams. 17:4 berkata: “Orang yang berbuat jahat memperhatikan bibir jahat, seorang pendusta memberi telinga kepada lidah yang mencelakakan.” Senjata Iblis melalui tokoh antikris di akhir zaman adalah tipu muslihat (2 Tes. 2:7-12). Karena itu kita harus menjadi anak Tuhan yang suka dan mengasihi kebenaran, sehingga telinga kita pun hanya terbuka kepada kebenaran. Kita perlu berdoa untuk hal ini, sebab mencintai kebenaran bukanlah berbicara mengenai sikap di luar, tapi mengenai apa yang di dalam kita (hati atau roh kita).

Di akhir zaman ini manusia akan dipisahkan menjadi dua, yaitu mereka yang mencintai kebenaran dan mereka yang tidak mau menerima kebenaran. Mereka yang lapar dan haus akan kebenaran pasti akan dipuaskan. Tetapi mereka yang tidak mau menerima kebenaran akan terseret oleh penyesatan Antikris. Jadi kalau kita mulai merasa kering, berdoalah supaya diberikan hati yang lapar dan haus akan kebenaran firman-Nya. Roh Kudus pasti akan menghidupkan firman-Nya dan menyegarkan kita kembali.

Jadi senjata utama Iblis di akhir zaman untuk menjatuhkan gereja Tuhan adalah melalui hoax. Karena itu bertumbuhlah dalam kebijaksanaan dan pengenalan akan kebenaran agar kita tidak mudah termakan hoax, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala (Efesus 4:11-15). Tuhan Yesus memberkati. (XY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *